Beranda > Artikel > Imam Syafi’i di mata Gus Dur

Imam Syafi’i di mata Gus Dur

Gus Di mata KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia ke-4 sosok Imam Syaif’i sangat dikagumi. Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i  demikian nama lengkap Imam Syafi’i (w. 204 H). Baginya, pendiri Mazhab Syafii ini adalah sosok mahaguru yang hebat karena bisa memberikan alternatif hukum yang digali secara mendalam.

“Seluruh pendapatnya tidak ngawur,” kata Gus Dur dalam pengajian Ramadhan di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, Jum’at pagi beberapa hari yang lalu.
Dalam pengajian kitab ar-Risalah karya Imam al-Syafi’i itu, Gus Dur menyampaikan, banyak umat Islam yang mengabaikan hasil-hasil ijtihad para imam mazhab. Bahkan dengan arogan mereka berusaha mengaitkan pendapat-pendapatnya langsung pada al-Qur’an dan Hadis.

“Kelompok-kelompok ini adalah sekumpulan orang-orang bodoh yang tidak mengerti betapa syariat Islam bukanlah peraturan yang dibuat dengan semena-mena. Mereka salah karena menganggap para ulama tidak mengambil langsung dari dasar pokok Islam, sehingga mengira para ulama dan kiai hanya taklid buta saja, ” ungkapnya geram.

Karenanya, para ulama Ahlussunnah harus memiliki cara membendung arus negatif budaya kelompok ini. “Jika warga Nahdliyyin ingin tetap mempertahankan faham Ahlussunnah Waljamaah sebagai faham mayoritas umat di Nusantara, maka para ulama NU harus memiliki kreatifitas membela ajaran-ajaran para imam mazhab,” tandasnya.

Menurut Gus Dur, dahulu Imam al-Syafi’i digelari sebagai Nasir as-Sunnah (pembela Sunnah). Namun sekarang para pengikutnya di Indonesia malah dianggap sebagai ahli bid’ah. Karenanya menjadi tantangan bersama untuk memberikan penjelasan bahwa para ulama Ahlussunnah Waljamaah adalah benar-benar ulama yang mengerti dasar-dasar agama, sehingga memiliki banyak pilihan dalam setiap pengambilan keputusan-keputusan hukum.

“Dengan berbagai perbedaan pendapat itu, para ulama mestinya dapat mencarikan solusi yang lebih berarti untuk menyelesaikan problem-problem umat. Selain itu kita mesti mengakui bahwa perbedaan adalah rahmat,” pungkasnya.[gusdur.net/zal]

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: